April 11, 2008
Demand-led-growth dan Fallacy of Belief
Oleh Unandar Jajang
Setelah beberapa kali dilakukan ’’perubahan” pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 dengan yang menjadi APBN Perubahan, (APBN-P) beberapa kalangan menilai pemerintah terjebak dalam gaya manajemen ’’non-decisive” serta terjerumus dalam kerangka pemikiran ’’fallacy of belief” dalam mengawal perekonomian nasional. Pada awal 2008, berbagai pihak telah menggulirkan ramalan akan naiknya harga minyak menembus batas psikologis USD100 yang nyata terbukti.Hal itu menimbulkan polemik seputar APBN 2008 yang dinilai memiliki corak ’’keganjilan” oleh berbagai pihak dalam masyarakat.
Strategi Demand-led-growth
Dalam teori ekonomi Keynesian dengan cakupan strategi demand-ledgrowth, peran government spending (G) sebagai stimulus perekonomian nasional menjadi sangat penting dalam equasi pertumbuhan pendapatan nasional.Langkah yang diambil pemerintah ini menjadi sorotan berbagai pihak.Dalam hal ini,masyarakat memfokuskan pada besaran rasio atau persentase,yakni pertumbuhan PDB,pengeluaran pemerintah, pertumbuhan investasi, ekspor-impor; rasio defisit anggaran/ PDB,subsidi/pendapatan,dan seyogianya bukan pada besaran ’’nilai” face value.Karena itu, kelemahan pertama dari APBN 2008 saat ini adalah lemahnya sistem pelembagaan estimasi atau forecast pemerintah terhadap harga minyak mentah dunia dan harga komoditas impor seperti bahan pangan.Kedua,akibat asumsi-asumsi makro yang ’’meleset’’, tentu di dalam penyusunan anggaran tersebut terdapat sebuah fallacy yang terus dipertahankan.
Mekanisme ’’Closed Loop”
Apabila tingkat eror antara besaran prakiraan dan aktual demikian lebar, sistem lembaga penyusun asumsi ini tidak melakukan fungsinya dengan baik.Melakukan estimasi harga minyak mentah yang terlalu rendah, USD65 atau USD85 terhadap kenyataan USD100 tidaklah sebaik asumsi USD 95 apabila harga ratarata berkisar USD95–100.Memperkirakan terlalu tinggi pun,misalnya USD130,juga bukan merupakan sebuah proses estimasi yang baik. Estimasi mendekati nilai rata-ratalah yang mencerminkanpilihan terbaik. Demikian pula terhadap harga bahan pangan dunia, pemerintah seakan tidak memiliki suatu contingency – method terhadap tren harga yang overshoot. Apabila kita melakukan perubahan terus-menerus terhadap besaran pendapatan dan belanja,makna anggaran itu menjadi luntur dengan sendirinya.
Namun, apabila rasio-volume yang berubah, hal ini pasti mengundang reaksi masyarakat terhadap ’’kenyataan”perekonomian. Salah satu teknik budget managementadalah melalui sebuah pendekatan sistem.Teknik ini bersenyawa dengan konsep strategis menyelaraskan arti fundamental anggaran. Setiap kali menyusun rencana APBN, pemerintah tentunya mengaitkan sasaran (goal setting) melalui proses prakiraan (forecasting).Sasaran ini dipecah- pecah menjadi ’’rencana kerja” agar dapat dilakukan penugasan (assignment) pelaksanaan dan menjadi terkontrol.Penugasan ini pun kemudian dievaluasi dengan tindak lanjut atau pelaporan (follow up/- reporting) sedini mungkin agar hasilnya dapat dikoreksi segera sesuai rencana. Sistem closed loopini memungkinkan perbaikan berkelanjutan.
Fallacy of Belief
Paradigma anutan pemerintah terhadap corak anggaran menuai kritik. Fallacyitu adalah menetapkan Indonesia sebagai ’’oil-exporting country.” Kekeliruan paradigma ini dapat dikoreksi dengan melepaskan asumsi itu dan menetapkan Indonesia sebagai ’’net-oil importing country’’. Saat ini, Indonesia diibaratkan seperti sebuah kapal dengan seorang nakhoda berlayar di alam lautan ekonomi global. Ketika badai datang dalam kekelaman malam, sang nakhoda salah mengartikan sumber cahaya sebagai berasal dari sebuah kapal lain. Sang nakhoda pun mengisyaratkan kapal lain itu menyingkir, tapi tidak direspons. Jika tidak, tabrakan pun tak terelakkan. Pada kenyataannya, sumber cahaya itu berasal dari sebuah mercusuar.
Memaksa mercusuar menyingkir akan menyebabkan karamnya kapal menabrak karang terjal. Apabila kita bergeming dan menganggap Indonesia tetap sebagai ’’oil exporting country” sedangkan kenyataannya kita adalah net-oil importing country, Indonesia akan terus terombang- ambing di lautan ekonomi global dengan asumsi-asumsi makro sebagai alat navigasi yang ’’lemah’’. Selanjutnya, pemerintah juga seakan percaya bahwa dengan merevisi harga minyak mentah dapat mengatasi masalah mendasar tersebut.
Jika seseorang percaya bahwa sebuah jembatan adalah aman untuk dilewatinya tapi ketika mulai dilewatinya ternyata jembatan tersebut ’’ambruk’’, orang tersebut dikategorikan terjebak dalam sebuah ’’fallacy of belief’’. Apa pun yang dilakukannya terhadap ’’belief”’ yang telah dipegangnya,’’ belief’’ tersebut tidak dapat menyelamatkan dirinya dari keambrukan jembatan tersebut. Paradigma yang salahlah yang harus diubah. Tentu, apabila hanya karena terjadi kesalahan pada sistem acuan sang nakhoda kapal yang berlayar, kita tidak perlu membakar kapal itu seluruhnya.
Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki instrumen yang ’’rusak’’ dengan acuan sistem yang lebih reliable. Kita tidak perlu merombak seluruhnya, tapi mengubah paradigma yang salah sehingga kita tidak lagi terjebak pada asumsi-asumsi yang selalu meleset dan berdampak pada ketahanan masyarakat terhadap tekanan-tekanan harga,seperti tahu, tempe,minyak goreng,bahan bakar minyak (BBM).
UNANDAR JAJANG, Pengamat Ekonomi Internasional Alumnus American University, Washington DC
(Koran Sindo)
Tag: Setelah beberapa kali dilakukan ’’perubahan” pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 dengan yang menjadi APBN Perubahan, (APBN-P) beberapa kalangan menilai pemerintah terjebak dalam gaya manajemen ’’non-decisive” serta terjerumus dalam kerangka pemikiran ’’fallacy of belief” dalam mengawal perekonomian nasional. Pada awal 2008, berbagai pihak telah menggulirkan ramalan akan naiknya harga minyak menembus batas psikologis USD100 yang nyata terbukti.Hal itu menimbulkan polemik seputar APBN 2008 yang dinilai memiliki corak ’’keganjilan” oleh berbagai pihak dalam masyarakat.
Strategi Demand-led-growth
Dalam teori ekonomi Keynesian dengan cakupan strategi demand-ledgrowth, peran government spending (G) sebagai stimulus perekonomian nasional menjadi sangat penting dalam equasi pertumbuhan pendapatan nasional.Langkah yang diambil pemerintah ini menjadi sorotan berbagai pihak.Dalam hal ini,masyarakat memfokuskan pada besaran rasio atau persentase,yakni pertumbuhan PDB,pengeluaran pemerintah, pertumbuhan investasi, ekspor-impor; rasio defisit anggaran/ PDB,subsidi/pendapatan,dan seyogianya bukan pada besaran ’’nilai” face value.Karena itu, kelemahan pertama dari APBN 2008 saat ini adalah lemahnya sistem pelembagaan estimasi atau forecast pemerintah terhadap harga minyak mentah dunia dan harga komoditas impor seperti bahan pangan.Kedua,akibat asumsi-asumsi makro yang ’’meleset’’, tentu di dalam penyusunan anggaran tersebut terdapat sebuah fallacy yang terus dipertahankan.
Mekanisme ’’Closed Loop”
Apabila tingkat eror antara besaran prakiraan dan aktual demikian lebar, sistem lembaga penyusun asumsi ini tidak melakukan fungsinya dengan baik.Melakukan estimasi harga minyak mentah yang terlalu rendah, USD65 atau USD85 terhadap kenyataan USD100 tidaklah sebaik asumsi USD 95 apabila harga ratarata berkisar USD95–100.Memperkirakan terlalu tinggi pun,misalnya USD130,juga bukan merupakan sebuah proses estimasi yang baik. Estimasi mendekati nilai rata-ratalah yang mencerminkanpilihan terbaik. Demikian pula terhadap harga bahan pangan dunia, pemerintah seakan tidak memiliki suatu contingency – method terhadap tren harga yang overshoot. Apabila kita melakukan perubahan terus-menerus terhadap besaran pendapatan dan belanja,makna anggaran itu menjadi luntur dengan sendirinya.
Namun, apabila rasio-volume yang berubah, hal ini pasti mengundang reaksi masyarakat terhadap ’’kenyataan”perekonomian. Salah satu teknik budget managementadalah melalui sebuah pendekatan sistem.Teknik ini bersenyawa dengan konsep strategis menyelaraskan arti fundamental anggaran. Setiap kali menyusun rencana APBN, pemerintah tentunya mengaitkan sasaran (goal setting) melalui proses prakiraan (forecasting).Sasaran ini dipecah- pecah menjadi ’’rencana kerja” agar dapat dilakukan penugasan (assignment) pelaksanaan dan menjadi terkontrol.Penugasan ini pun kemudian dievaluasi dengan tindak lanjut atau pelaporan (follow up/- reporting) sedini mungkin agar hasilnya dapat dikoreksi segera sesuai rencana. Sistem closed loopini memungkinkan perbaikan berkelanjutan.
Fallacy of Belief
Paradigma anutan pemerintah terhadap corak anggaran menuai kritik. Fallacyitu adalah menetapkan Indonesia sebagai ’’oil-exporting country.” Kekeliruan paradigma ini dapat dikoreksi dengan melepaskan asumsi itu dan menetapkan Indonesia sebagai ’’net-oil importing country’’. Saat ini, Indonesia diibaratkan seperti sebuah kapal dengan seorang nakhoda berlayar di alam lautan ekonomi global. Ketika badai datang dalam kekelaman malam, sang nakhoda salah mengartikan sumber cahaya sebagai berasal dari sebuah kapal lain. Sang nakhoda pun mengisyaratkan kapal lain itu menyingkir, tapi tidak direspons. Jika tidak, tabrakan pun tak terelakkan. Pada kenyataannya, sumber cahaya itu berasal dari sebuah mercusuar.
Memaksa mercusuar menyingkir akan menyebabkan karamnya kapal menabrak karang terjal. Apabila kita bergeming dan menganggap Indonesia tetap sebagai ’’oil exporting country” sedangkan kenyataannya kita adalah net-oil importing country, Indonesia akan terus terombang- ambing di lautan ekonomi global dengan asumsi-asumsi makro sebagai alat navigasi yang ’’lemah’’. Selanjutnya, pemerintah juga seakan percaya bahwa dengan merevisi harga minyak mentah dapat mengatasi masalah mendasar tersebut.
Jika seseorang percaya bahwa sebuah jembatan adalah aman untuk dilewatinya tapi ketika mulai dilewatinya ternyata jembatan tersebut ’’ambruk’’, orang tersebut dikategorikan terjebak dalam sebuah ’’fallacy of belief’’. Apa pun yang dilakukannya terhadap ’’belief”’ yang telah dipegangnya,’’ belief’’ tersebut tidak dapat menyelamatkan dirinya dari keambrukan jembatan tersebut. Paradigma yang salahlah yang harus diubah. Tentu, apabila hanya karena terjadi kesalahan pada sistem acuan sang nakhoda kapal yang berlayar, kita tidak perlu membakar kapal itu seluruhnya.
Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki instrumen yang ’’rusak’’ dengan acuan sistem yang lebih reliable. Kita tidak perlu merombak seluruhnya, tapi mengubah paradigma yang salah sehingga kita tidak lagi terjebak pada asumsi-asumsi yang selalu meleset dan berdampak pada ketahanan masyarakat terhadap tekanan-tekanan harga,seperti tahu, tempe,minyak goreng,bahan bakar minyak (BBM).
UNANDAR JAJANG, Pengamat Ekonomi Internasional Alumnus American University, Washington DC
(Koran Sindo)





