April 6, 2008
Selamatkan Bursa Indonesia
Pasar modal pekan ini kembali guncang. Selama empat hari, indeks harga saham gabungan (IHSG) tersungkur 239,61 poin (9,67 persen) dari level penutupan Jumat pekan lalu yang masih nangkring di level 2.477,59. Penurunan indeks mulai Senin (31/3) hingga Kamis (3/4) merupakan yang terbesar pada 2008. Pada 22 Januari silam, IHSG sempat tergerus 7,7 persen.
Untung, dalam penutupan perdagangan Jumat (4/4), indeks kembali menguat. Melesatnya harga saham PT Bumi Resources Tbk, emiten berkapitalisasi terbesar kedua di lantai bursa, memompa pembelian selektif saham-saham unggulan. Akibatnya, pasar saham dalam negeri terangkat dari kejatuhan lebih dalam. Kemarin, IHSG melesat 39,114 poin (1,75 persen) bertengger di posisi 2.277,085.
Ada beberapa faktor yang membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) -yang tahun lalu meraih penghargaan sebagai salah satu pasar modal terbaik di Asia- sedikit terpuruk. Selain kekhawatiran pelaku pasar terhadap tingginya laju inflasi dalam negeri, prospek perekonomian global yang masih bergelombang turut berperan.
Investor langsung bereaksi negatif ketika Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target pemerintah.
Berdasar laporan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Maret tercatat 0,95 persen. Jika dikalkulasi, inflasi triwulan I 2008 sudah 3,41 persen dan inflasi tahunan 8,17 persen. Angka itu sudah di atas target inflasi tahun ini yang dipatok tak lebih dari 6,5 persen.
Tentu, itu sinyal yang kurang bagus bagi perekonomian nasional di tengah tekanan defisit anggaran akibat melambungnya harga minyak dunia.
Sementara itu, pemerintah sebagai otoritas fiskal dan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter seperti tersandera. Pembuat kebijakan ekonomi tersebut terperangkap di antara dua keputusan sulit. BI tidak bisa menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi lantaran berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pemerintah tidak mungkin menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN karena berpotensi memacu inflasi lebih tinggi.
Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk sesegera mungkin merevisi APBN. Pasar kini menanti penjelasan strategi pemerintah dalam menambal defisit APBN dan mengatasi inflasi. Selain itu, pasar butuh kepastian soal harga BBM. Apakah jadi naik atau tidak. Kalaupun dinaikkan, berapa besarannya, sehingga pasar dan pelaku usaha bisa mengalkulasi ulang rencana bisnisnya.
Regulator juga perlu menumbuhkan dan menggairahkan investor lokal. Selama ini, peran investor asing masih cukup dominan di pasar finansial Indonesia. Entah itu dalam pembelian saham, obligasi, atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Karena itu, jika mereka melakukan aksi jual, dampaknya sangat terasa bagi perekonomian lokal.
Terakhir, pemerintah bisa mempercepat proses go public perusahaan-perusahaan pelat merah (BUMN). Meski pasar fluktuatif, itu bukan alasan untuk menunda BUMN melantai di pasar modal.
Justru, dengan dilepasnya saham-saham BUMN unggulan seperti PT Krakatau Steel, pasar modal yang sedang lesu darah bisa kembali bergairah. Dengan begitu, BEI yang pernah meraih predikat salah satu bursa terbaik tidak kembali terpuruk.
(jawa pos dotcom)
Tag: Untung, dalam penutupan perdagangan Jumat (4/4), indeks kembali menguat. Melesatnya harga saham PT Bumi Resources Tbk, emiten berkapitalisasi terbesar kedua di lantai bursa, memompa pembelian selektif saham-saham unggulan. Akibatnya, pasar saham dalam negeri terangkat dari kejatuhan lebih dalam. Kemarin, IHSG melesat 39,114 poin (1,75 persen) bertengger di posisi 2.277,085.
Ada beberapa faktor yang membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) -yang tahun lalu meraih penghargaan sebagai salah satu pasar modal terbaik di Asia- sedikit terpuruk. Selain kekhawatiran pelaku pasar terhadap tingginya laju inflasi dalam negeri, prospek perekonomian global yang masih bergelombang turut berperan.
Investor langsung bereaksi negatif ketika Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target pemerintah.
Berdasar laporan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Maret tercatat 0,95 persen. Jika dikalkulasi, inflasi triwulan I 2008 sudah 3,41 persen dan inflasi tahunan 8,17 persen. Angka itu sudah di atas target inflasi tahun ini yang dipatok tak lebih dari 6,5 persen.
Tentu, itu sinyal yang kurang bagus bagi perekonomian nasional di tengah tekanan defisit anggaran akibat melambungnya harga minyak dunia.
Sementara itu, pemerintah sebagai otoritas fiskal dan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter seperti tersandera. Pembuat kebijakan ekonomi tersebut terperangkap di antara dua keputusan sulit. BI tidak bisa menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi lantaran berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pemerintah tidak mungkin menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN karena berpotensi memacu inflasi lebih tinggi.
Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk sesegera mungkin merevisi APBN. Pasar kini menanti penjelasan strategi pemerintah dalam menambal defisit APBN dan mengatasi inflasi. Selain itu, pasar butuh kepastian soal harga BBM. Apakah jadi naik atau tidak. Kalaupun dinaikkan, berapa besarannya, sehingga pasar dan pelaku usaha bisa mengalkulasi ulang rencana bisnisnya.
Regulator juga perlu menumbuhkan dan menggairahkan investor lokal. Selama ini, peran investor asing masih cukup dominan di pasar finansial Indonesia. Entah itu dalam pembelian saham, obligasi, atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Karena itu, jika mereka melakukan aksi jual, dampaknya sangat terasa bagi perekonomian lokal.
Terakhir, pemerintah bisa mempercepat proses go public perusahaan-perusahaan pelat merah (BUMN). Meski pasar fluktuatif, itu bukan alasan untuk menunda BUMN melantai di pasar modal.
Justru, dengan dilepasnya saham-saham BUMN unggulan seperti PT Krakatau Steel, pasar modal yang sedang lesu darah bisa kembali bergairah. Dengan begitu, BEI yang pernah meraih predikat salah satu bursa terbaik tidak kembali terpuruk.
(jawa pos dotcom)






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.